Ini.... ini adalah kisah merah di hidupku, dimana aku yang baru berumur 5 tahun dan kakak ku lebih tua 1 tahun dari umurku, mengalami kebrutalan dari seorang "Pak Haji".
Kisah kelam ini, terjadi 18 tahun yang lalu, bertempat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tempat dimana aku di besarkan dan belajar berkata "ANJING" pada usia dini dan dimana efek dari "Krisis Moneter" saat itu masih benar benar terasa, apalagi saat itu keluarga ku sangat bergantung dengan penghasilan dari hasil jerih payah ayahku yang berprofesi sebagai pedagang keliling, penghasilan ayahku sangat kecil, buat beli beras aja susah, apalagi buat karokean.
Di pagi buta, saat adzan subuh berkumandang, "Heeeeh... bangun, kamu udah harus latihan bangung pagi atuh" suara lembut seorang wanita yang menyadarkan ku dari tidurku. Kulihat kakak ku yang sudah bangun dan mengambil posisi duduk sembari termenung mengumpulkan nyawanya yang sudah tercerai berai saat mimpi.
"Cepat mandi, mamah udah siapin air hangat" perintah Ibu ku sembari melucuti pakaian ku dan kakak ku, "aya naon atuh? naha di hudang keun jam sakieu?"(ada apa sih? kok jam segini udah di bangunin) tanya kakak ku, "ada acara festival, di rumahnya Pak Haji, entar kalian berdua bisa dapet uang banyak dan jajanan banyak". Mendengar hal itu, kami berdua langsung bergegas berlari ke kamar mandi, membersihkan diri dengan cepat dan berpakaian rapi.
Udara pagi itu benar-benar segar, aku melihat teman-teman sebaya ku berlarian kesana kemari dan para orang tua berbondong-bondong berjalan menuju rumah Pak Haji sembari membawa banyak sekali jajanan dan makanan. tanpa pikir panjang aku dan kakaku berlari menyusul teman-teman, sembari membayangkan nanti bakal makan snack "Chiki Ball" rasa keju yang kandungan MSG nya menancap di hati.
"Ini teh aya naon? naha loba jeulma isuk-isuk?"(ini ada apa? kok banyak orang pagi-pagi gini?) tanya ku ke teman ku yang bernama Jalu, tetiba wajah Jalu memucat membuat penampilanya bertambah seram mengingat tubuhnya kurus disertai kulit kuning pucatnya mirip mayat hidup yang mati tersedak lontong, "maneh teh ereuk di peuncit !!"(kamu tuh bakal di sembelih!!) teriak jalu, "sok lari atuh, nyumput kamana kitu!!"(cepet lari, sembunyi dimana gitu!!) , tangan kurusnya menarik paksa tubuh ku yang juga tak kalah kurus ini menjauh dari rombongan meninggalkan kakaku yang kayaknya nyawanya bener-bener belum kumpul.
Sesampainya di sebuah garasi tak terpakai milik Pak Haji, si Jalu menyuruhku untuk bersembunyi di dalam Drumm Kaleng Minyak yang kosong, "cepet !! nyumput disitu !!" teriak Jalu dengan paniknya, aku yang ikutan panik langsung menuruti apa yang Jalu perintahkan. Kemudian dua orang berbadan besar dan berkulit gelap segera memergoki kami berdua, mereka adalah Thomas dan Peter anak asuh Pak Haji yang berasal dari Timor Timur.
"Heh !! kalian sedang apa?! cepet kesini ! acaranya mau di mulai !" teriak Thomas dari jauh, "waduh... ini pasti si jalu lagi ngebohongin si meong tuh" kata Peter sembari menuju arah kami berdua. "Lariiii !! lariii !! cepet sia !" teriak Jalu, dan dengan sigap Peter membungkam mulut Jalu dengan tanganya yang kekar dan menarik Jalu menjauh dari pandangan ku.
Kemudian Thomas menghampiri ku yang masih bersembunyi di balik Drumm minyak tersebut, dengan suara pelanya, Thomas meyakinkan ku "udah gak papa, ikut Aa(kakak) aja sini, jangan mau di bohongin Jalu, gak ada apa-apa kok, ntar Aa kasih Tazos yang gambarnya Raichuu" tazos adalah mainan plastik berbentuk koin bulat bergambar sebuah tokoh anime atau kartun, dan berhubung Tazos dengan gambar Pokemon Raichuu itu bener-bener benda yang lanka, aku dengan senang hati menurut meskipun hati ini masih was-was, karena kata-kata "disembelih" adalah suatu yang gak lucu sama sekali.
Thomas menggandengku dan kami berjalan menuju sebuah gedung aula besar milik Pak Haji, suasana tegang yang menyelimutiku semakin terasa tegang dikala mendekat ke Gedung aula itu dan mulai mendengar tangis jeritan kepedihan para teman-teman sebaya ku yang tadi berada di rombongan. Hati ini semakin penasaran bercampur gelisah, aku pun berlari menuju pusat suara tersebut yang berada di dalam gedung tersebut dan begitu masuk, pemandangan "HOLOCAUST" terjadi di depan mata ku...
aku melihat teman ku si Jalu yang entah bagai mana dia sudah terbaring di atas kasur sembari seluruh tubuhnya di pegang oleh 5 orang pemuda dan dia berusaha meronta ronta sembari menangis, salah satu dari para pemuda itu berusaha melepaskan celana si Jalu dengan paksa hingga terlihatlah "Little Albert" milik Jalu,
"Aaaaaaargh !!! MAMAH!! MAMAAAAH!!" terdengar teriakan yang memekakan telingaku dan suara itu terdengar tidak asing, dan ternyata memang benar, di sebelah kasur yang di pakai untuk eksekusi Jalu ada kakak ku juga yang bagian bawahnya sudah telanjang serta meronta-ronta, tubuh dan kakinya di pegang oleh 4 pemuda yang tak di kenal, kakak ku berusaha meronta-ronta dengan pinggulnya bergeser kekanan dan kekiri secara cepat bagai Biduan dangdut koplo sedang melakukan aksi "GOYANG KARAWANG".
"Aku benar-benar harus lari" pikir ku kala itu, persetan dengan Raichuu, aku harus bersembunyi dan menjauh, belum sempat berbalik badan untuk berlari, Thomas dengan sigapnya menggendong ku dan setengah membanting tubuh ku ke arah kasur di sebelah kakaku, dan dengan cepatnya, 3 pemuda tak di kenal lainya memegang kedua tangan dan kakiku hingga sulit ku gerakan, jantungku berdegup sangat kencang dan keringat dingin langsung mengucur deras di tubuh ku.
Thomas langsung melorotkan celana ku yang bertipe kolor bergambar "Panji Manusia Milenium" dengan mudah. Dan terlihatlah " Collonel Junior " miliku yang tertidur lemas.
Terlihat Pak Haji datang menghampiri ku yang sudah menangis gak karuan dan terbujur lemas, beliau membawa sebuah kotak berwarna putih, "Udah atuh, ulah ceurik wae... gak sakit kok, rasanya kayak digigit papatong"(udah dong, jangan nangis terus, gak sakit kok, rasanya kayak digigit capung) kata beliau sembari mengotak atik sebuah jarum suntik, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis dan menangis "Ampuuuun Bapaaa... ampuuun, ampun pak Hajiiii..." kataku seraya terus menangis dan memohon dengan nada lirih merintih,
Tiba-tiba, aku merasakan tangan Pak Haji memegang "Collonel Junior" ku, dan... "Aaaaaaaaaaaaaargh Nyeuriiiii.....!! Anjing sia maneh PAk Hajiiiii !!!!"(Aaaaaaargh Sakiiiiit !! Anjing kau Pak Hajiiiii !!!) teriaku kesakitan karena serasa seekor buaya mencaplok bagian bawah ku, semua pemuda yang memegangiku tertawa gurih, "Hush !! mau Pak Haji potong semua sekaligus ini?!!" ancam pak Haji, aku merasakan sesuatu yang menyayat di bagian bawah, sakit dan tegang bercampur aduk, " Anjiiiing Pak Hajiiii !!, Pak Haji Anjiiiiing !!" teriakku semabri melihat sekitar dan pandanganku langsung tertuju pada Ibu ku yang berdiri tersenyum di diepan pintu masuk gedung, dengan sigap ku ulurkan tangan kurus ku ke arah Ibu ku,
"Maaaah !! MAMAAAAH !! panangana abdi cekelaaan !! cekelaaaan!! "(pegang tanganku, pegaaaang) aku berusaha menjulurkan tangan kananku yang masih dipegang Thomas,
"aduh, coba itu tanganya di pegang dong, siapa tau bisa nenangin bu" kata seorang ibu-ibu di sebelah ibu ku mencoba memberi saran. Ibu ku langsung bergegas berlari ke arah ku dan memegang tangan kanan ku dengan erat, "Gusuuuuuuur !! cepet Gusuuuur mamaaah!"(Tariiiiik !! cepet tariiiiik mamaaah!!), tetapi ibu ku hanya terawa bersama pemuda yang lainya. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini hingga drama ini selesai. Persetan dengan Raichuu !
Kisah kelam ini, terjadi 18 tahun yang lalu, bertempat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tempat dimana aku di besarkan dan belajar berkata "ANJING" pada usia dini dan dimana efek dari "Krisis Moneter" saat itu masih benar benar terasa, apalagi saat itu keluarga ku sangat bergantung dengan penghasilan dari hasil jerih payah ayahku yang berprofesi sebagai pedagang keliling, penghasilan ayahku sangat kecil, buat beli beras aja susah, apalagi buat karokean.
Di pagi buta, saat adzan subuh berkumandang, "Heeeeh... bangun, kamu udah harus latihan bangung pagi atuh" suara lembut seorang wanita yang menyadarkan ku dari tidurku. Kulihat kakak ku yang sudah bangun dan mengambil posisi duduk sembari termenung mengumpulkan nyawanya yang sudah tercerai berai saat mimpi.
"Cepat mandi, mamah udah siapin air hangat" perintah Ibu ku sembari melucuti pakaian ku dan kakak ku, "aya naon atuh? naha di hudang keun jam sakieu?"(ada apa sih? kok jam segini udah di bangunin) tanya kakak ku, "ada acara festival, di rumahnya Pak Haji, entar kalian berdua bisa dapet uang banyak dan jajanan banyak". Mendengar hal itu, kami berdua langsung bergegas berlari ke kamar mandi, membersihkan diri dengan cepat dan berpakaian rapi.
Udara pagi itu benar-benar segar, aku melihat teman-teman sebaya ku berlarian kesana kemari dan para orang tua berbondong-bondong berjalan menuju rumah Pak Haji sembari membawa banyak sekali jajanan dan makanan. tanpa pikir panjang aku dan kakaku berlari menyusul teman-teman, sembari membayangkan nanti bakal makan snack "Chiki Ball" rasa keju yang kandungan MSG nya menancap di hati.
"Ini teh aya naon? naha loba jeulma isuk-isuk?"(ini ada apa? kok banyak orang pagi-pagi gini?) tanya ku ke teman ku yang bernama Jalu, tetiba wajah Jalu memucat membuat penampilanya bertambah seram mengingat tubuhnya kurus disertai kulit kuning pucatnya mirip mayat hidup yang mati tersedak lontong, "maneh teh ereuk di peuncit !!"(kamu tuh bakal di sembelih!!) teriak jalu, "sok lari atuh, nyumput kamana kitu!!"(cepet lari, sembunyi dimana gitu!!) , tangan kurusnya menarik paksa tubuh ku yang juga tak kalah kurus ini menjauh dari rombongan meninggalkan kakaku yang kayaknya nyawanya bener-bener belum kumpul.
Sesampainya di sebuah garasi tak terpakai milik Pak Haji, si Jalu menyuruhku untuk bersembunyi di dalam Drumm Kaleng Minyak yang kosong, "cepet !! nyumput disitu !!" teriak Jalu dengan paniknya, aku yang ikutan panik langsung menuruti apa yang Jalu perintahkan. Kemudian dua orang berbadan besar dan berkulit gelap segera memergoki kami berdua, mereka adalah Thomas dan Peter anak asuh Pak Haji yang berasal dari Timor Timur.
"Heh !! kalian sedang apa?! cepet kesini ! acaranya mau di mulai !" teriak Thomas dari jauh, "waduh... ini pasti si jalu lagi ngebohongin si meong tuh" kata Peter sembari menuju arah kami berdua. "Lariiii !! lariii !! cepet sia !" teriak Jalu, dan dengan sigap Peter membungkam mulut Jalu dengan tanganya yang kekar dan menarik Jalu menjauh dari pandangan ku.
Kemudian Thomas menghampiri ku yang masih bersembunyi di balik Drumm minyak tersebut, dengan suara pelanya, Thomas meyakinkan ku "udah gak papa, ikut Aa(kakak) aja sini, jangan mau di bohongin Jalu, gak ada apa-apa kok, ntar Aa kasih Tazos yang gambarnya Raichuu" tazos adalah mainan plastik berbentuk koin bulat bergambar sebuah tokoh anime atau kartun, dan berhubung Tazos dengan gambar Pokemon Raichuu itu bener-bener benda yang lanka, aku dengan senang hati menurut meskipun hati ini masih was-was, karena kata-kata "disembelih" adalah suatu yang gak lucu sama sekali.
Thomas menggandengku dan kami berjalan menuju sebuah gedung aula besar milik Pak Haji, suasana tegang yang menyelimutiku semakin terasa tegang dikala mendekat ke Gedung aula itu dan mulai mendengar tangis jeritan kepedihan para teman-teman sebaya ku yang tadi berada di rombongan. Hati ini semakin penasaran bercampur gelisah, aku pun berlari menuju pusat suara tersebut yang berada di dalam gedung tersebut dan begitu masuk, pemandangan "HOLOCAUST" terjadi di depan mata ku...
aku melihat teman ku si Jalu yang entah bagai mana dia sudah terbaring di atas kasur sembari seluruh tubuhnya di pegang oleh 5 orang pemuda dan dia berusaha meronta ronta sembari menangis, salah satu dari para pemuda itu berusaha melepaskan celana si Jalu dengan paksa hingga terlihatlah "Little Albert" milik Jalu,
"Aaaaaaargh !!! MAMAH!! MAMAAAAH!!" terdengar teriakan yang memekakan telingaku dan suara itu terdengar tidak asing, dan ternyata memang benar, di sebelah kasur yang di pakai untuk eksekusi Jalu ada kakak ku juga yang bagian bawahnya sudah telanjang serta meronta-ronta, tubuh dan kakinya di pegang oleh 4 pemuda yang tak di kenal, kakak ku berusaha meronta-ronta dengan pinggulnya bergeser kekanan dan kekiri secara cepat bagai Biduan dangdut koplo sedang melakukan aksi "GOYANG KARAWANG".
"Aku benar-benar harus lari" pikir ku kala itu, persetan dengan Raichuu, aku harus bersembunyi dan menjauh, belum sempat berbalik badan untuk berlari, Thomas dengan sigapnya menggendong ku dan setengah membanting tubuh ku ke arah kasur di sebelah kakaku, dan dengan cepatnya, 3 pemuda tak di kenal lainya memegang kedua tangan dan kakiku hingga sulit ku gerakan, jantungku berdegup sangat kencang dan keringat dingin langsung mengucur deras di tubuh ku.
Thomas langsung melorotkan celana ku yang bertipe kolor bergambar "Panji Manusia Milenium" dengan mudah. Dan terlihatlah " Collonel Junior " miliku yang tertidur lemas.
Terlihat Pak Haji datang menghampiri ku yang sudah menangis gak karuan dan terbujur lemas, beliau membawa sebuah kotak berwarna putih, "Udah atuh, ulah ceurik wae... gak sakit kok, rasanya kayak digigit papatong"(udah dong, jangan nangis terus, gak sakit kok, rasanya kayak digigit capung) kata beliau sembari mengotak atik sebuah jarum suntik, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis dan menangis "Ampuuuun Bapaaa... ampuuun, ampun pak Hajiiii..." kataku seraya terus menangis dan memohon dengan nada lirih merintih,
Tiba-tiba, aku merasakan tangan Pak Haji memegang "Collonel Junior" ku, dan... "Aaaaaaaaaaaaaargh Nyeuriiiii.....!! Anjing sia maneh PAk Hajiiiii !!!!"(Aaaaaaargh Sakiiiiit !! Anjing kau Pak Hajiiiii !!!) teriaku kesakitan karena serasa seekor buaya mencaplok bagian bawah ku, semua pemuda yang memegangiku tertawa gurih, "Hush !! mau Pak Haji potong semua sekaligus ini?!!" ancam pak Haji, aku merasakan sesuatu yang menyayat di bagian bawah, sakit dan tegang bercampur aduk, " Anjiiiing Pak Hajiiii !!, Pak Haji Anjiiiiing !!" teriakku semabri melihat sekitar dan pandanganku langsung tertuju pada Ibu ku yang berdiri tersenyum di diepan pintu masuk gedung, dengan sigap ku ulurkan tangan kurus ku ke arah Ibu ku,
"Maaaah !! MAMAAAAH !! panangana abdi cekelaaan !! cekelaaaan!! "(pegang tanganku, pegaaaang) aku berusaha menjulurkan tangan kananku yang masih dipegang Thomas,
"aduh, coba itu tanganya di pegang dong, siapa tau bisa nenangin bu" kata seorang ibu-ibu di sebelah ibu ku mencoba memberi saran. Ibu ku langsung bergegas berlari ke arah ku dan memegang tangan kanan ku dengan erat, "Gusuuuuuuur !! cepet Gusuuuur mamaaah!"(Tariiiiik !! cepet tariiiiik mamaaah!!), tetapi ibu ku hanya terawa bersama pemuda yang lainya. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini hingga drama ini selesai. Persetan dengan Raichuu !
Comments
Post a Comment